Rabu, 19 Maret 2025

PUASA AJANG MENAKLUKAN NAFSU

Ahmad Fajarisma Budi Adam
Guru SMP N 1 Banjar Seririt Bali
Manusia diciptakan Allah SWT mempunyai nafsu sebagai fitrahnya. Sementara yang tidak memiliki nafsu adalah Malaikat. Manusia cenderung membangkang dibanding Malaikat. Tentu kita pasti paham, makna nafsu secara sederhana adalah keinginan dan sifatnya lebih condong menggiurkan, arahnya kerusakan. Al-Qur’an surah Yusuf ayat 53, yang artinya “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.

Jika nafsu terkendali dengan baik, maka dampaknya akan baik pula. Sebuah pepatah mengungkapkan "Memiliki hawa nafsu buruk itu manusiawi. Melawan dorongan hawa nafsu, itulah seorang Muslim". Melawan dorongan hawa nafsu dapat dimaknai sebagai mengendalikan secara optimal. Agar potensi melakukan perbuatan tercela dapat dihindari. Mengendalikan hawa nafsu bukanlah hal mudah, bentuk nafsu yang abstrak kerap kali memantik kenikmatan dunia menjadikannya sebagai musuh yang sulit dilawan.

Imam al-Gazhali membagi nafsu menjadi dua, nafsu mutmainnah dan nafsu amarah/lawwamah. Nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang, nafsu dirahmati, nafsu diberi petunjuk) yang berfungsi menstimulus berbuat kebaikan, rajin beribadah, istiqamah menjalankan perintah Allah. Nafsu amarah/lawwamah (nafsu buruk, nafsu jahat) mendorong manusia melakukan cara yang buruk untuk merealisasikan kehendaknya, seperti berbuat jahat, zina, mabuk, judi, membunuh, mencuri, fitnah, gibah, dan sejenisnya. Kita tahu, akhir-akhir ini begitu miris, di bulan Ramadhan, ada saja terdapat fenomena memprihatinkan. Orang banyak melakukan kejahatan, terdengar kabar ada seorang Bapak melakukan pencabulan terhadap putrinya dibawah umur, seorang ustadz di suatu kota terlibat pemerkosaan, kasus korupsi dari pejabat daerah hingga nasional yang sempat terungkap. Hal ini merupakan Tindakan  yang tak sepantasnya terjadi pada bulan puasa.

Puasa adalah senjata untuk melawan nafsu itu, sebuah ibadah yang diwajibkan bagi umat Muslim, bukan sekadar menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah madrasah ruhaniyah, sebuah ajang untuk menaklukkan nafsu yang kerap kali menjerumuskan manusia ke dalam jurang kehinaan. Nafsu, dengan segala bentuknya, adalah musuh utama yang harus ditaklukkan agar manusia dapat mencapai derajat takwa.

Dalam kehidupan sehari-hari, nafsu seringkali mengambil alih kendali, mendorong manusia untuk mengejar kesenangan duniawi tanpa batas. Nafsu makan, nafsu amarah, nafsu berkuasa, dan berbagai nafsu lainnya menjadi penghalang bagi manusia untuk mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan sejati. Di sinilah puasa hadir sebagai penawar, sebagai sarana untuk mengendalikan nafsu dan mengembalikan manusia pada fitrahnya.

Puasa sebagai Perisai

Rasulullah SAW bersabda, "Puasa adalah perisai." (HR. Bukhari dan Muslim). Perisai dari godaan setan, perisai dari perbuatan dosa, dan perisai dari api neraka. Dengan berpuasa, manusia melatih diri untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, baik yang lahir maupun yang batin. Menahan diri dari makan dan minum adalah latihan fisik, sedangkan menahan diri dari perkataan kotor, perbuatan maksiat, dan pikiran buruk adalah latihan mental dan spiritual.

Selama berpuasa, manusia belajar untuk mengendalikan hawa nafsu yang seringkali mendorongnya untuk berbuat berlebihan. Ketika rasa lapar dan haus mendera, manusia diingatkan akan pentingnya kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama yang kurang beruntung. Ketika amarah mulai memuncak, manusia belajar untuk bersabar dan menahan diri. Dengan demikian, puasa menjadi sarana untuk membersihkan hati dan jiwa dari penyakit-penyakit yang disebabkan oleh nafsu.

Puasa dan Kesadaran Diri

Puasa juga merupakan ajang untuk meningkatkan kesadaran diri. Dalam kesunyian malam, ketika perut kosong dan pikiran jernih, manusia merenungkan hakikat kehidupan, tujuan penciptaan, dan hubungannya dengan Sang Pencipta. Ia menyadari betapa lemahnya dirinya di hadapan Allah SWT, betapa kecilnya dirinya di alam semesta. Kesadaran ini menumbuhkan rasa rendah hati dan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

Selain itu, puasa juga melatih empati dan kepedulian sosial. Ketika merasakan lapar dan haus, manusia dapat merasakan penderitaan saudara-saudaranya yang kurang beruntung. Hal ini mendorongnya untuk lebih peduli dan berbagi dengan sesama, baik melalui sedekah, zakat, maupun perbuatan baik lainnya. Dengan demikian, puasa tidak hanya membersihkan diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Keutamaan Puasa dalam Hadis

  • "Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
  • "Setiap amalan kebaikan anak Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Dia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya semata-mata karena Aku.'" (HR. Muslim)

Puasa dan Kesehatan

Dari segi kesehatan, puasa juga memiliki banyak manfaat. Secara medis, puasa dapat membersihkan tubuh dari racun-racun yang menumpuk, memperbaiki sistem pencernaan, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Puasa juga dapat membantu menurunkan berat badan dan mengurangi risiko penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.

amun, manfaat kesehatan dari puasa bukanlah tujuan utama. Tujuan utama puasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, untuk membersihkan hati dan jiwa, dan untuk menaklukkan nafsu. Kesehatan hanyalah bonus, efek samping dari ibadah yang tulus.

Menaklukkan Nafsu di Luar Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah latihan intensif untuk menaklukkan nafsu. Namun, perjuangan melawan nafsu tidak berhenti setelah Ramadhan berakhir. Manusia harus terus berjuang untuk mengendalikan nafsunya sepanjang hidupnya. Ia harus terus berlatih untuk menahan diri dari godaan duniawi, untuk bersabar dalam menghadapi cobaan, dan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan.

Dengan demikian, puasa bukan hanya ibadah ritual tahunan, tetapi juga gaya hidup yang harus diterapkan setiap hari. Dengan menaklukkan nafsu, manusia dapat mencapai derajat takwa, menjadi pribadi yang lebih baik, dan meraih kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.
Previous Post
Next Post

0 comments: